DAFTAR ISI:
I.
Definisi Instrument (Apa yang dimaksud dengan
Instrumen & yang tergolong kedalam instrument )
II.
Terbagi dalam berapa
macam Instrument
III.
Teknik pengukuran dan
kalibrasi tekanan
IV.
Satuan- satuan berat & Satuan-satuan tekanan
DEFINISI:
I.
Apakah
yang dimaksud dengan Instrument?
Instrument
adalah proses pengukuran dan pemberian angka- angka pada suatu objek
Yang
tergolong kedalam instrument :
Instrument
mencakup bidang yang sangat luas sekali , terutama dalam bidang industri, dalam
kehidupan sehari-hari, dan juga dalam
kehidupan rumah tangga . Ada pun instrument sebagai contoh dalam kehidupan kita sehari-hari , pedangang yang menggunakan
timbangan.
Timbangan
ini bagian dari instrument dan harus di calibrasi (di tera) dalam jangka waktu
paling lama 6 bulan sekali. Contoh lainnya pedagang kain yang menggunakan meteran kain, meteran kain
juga harus di kalibrasi, kemudian meteran pengukuran angin misalnya untuk
mengisi ban kendaraan juga
merupakan bagian dari instrument
. Dalam rumah tangga contohnya dalam
menggunakan tabung gas ,pada tabung gas tersebut ada pressure gauge, dan itu
juga bagian dari instrument yang harus
dilakukan kalibrasi. Contoh pada
industri farmasi , dimana cangkang
pada capsul itu juga harus di calibrasi yaitu dalam
melihat ketebalan cangkang capsul tersebut.
Jadi
instrument itu sangat luas sekali , namun
kali ini yang akan kita bahas adalah Instrument di dalam Industri Pengeboran Minyak
(Drilling) atau Well Service.
I.
Apa
saja yang tergolong kedalam instrument
1. Instrument
yang menggunakan Angin ( Pneumatic ) dimana
angin sebagai penggerak
2. Instrument
yang menggunakan Angin dan Electric atau
E/P (Electric Pneumatic), diamana
penggeraknya Angin dan Electric.
3. Instrument
yang menggunakan Electric / Electronica. Dimana penggeraknya adalah arus
listrik dengan voltage rendah 0-10 volt dan electronica atau system digital
. Instrument ini digerakkan menggunakan tegangan yang rendah: 0 - 4 mili
Ampere.
4. Instrument
yang menggunakan Hydrollic . Diamana penggeraknya Fluida (cairan)
Kita
akan membahasnya satu persatu.
PEMBAHASAN :
1.
Instrument
yang menggunakan Angin ( Pneumatic)
System ini bekerja semata- mata
menggunakan angin sebagai media penggeraknya . Dimana angin yang di supply dari
Compressor adalah 120 psi. Angin yang
120 psi ini masuk kedalam regulator , tujuannya
agar angin yang keluar bisa di
adjust sesuai dengan kebutuhan, dari regulator angin masuk lagi ke filter ( pengeringan ) tujuannya agar angin yang keluar tersebut tidak mengandung uap air , karena uap
air dapat merusak system instrument itu
sendiri.
Biasanya sistem pneumatic akan mendapatkan supply angin 30-20 psi atau disebut Input Signal.
Kemudian angin yang keluar 3-15 psi atau disebut Output Signal. Contoh
instrument yang menggunakan angin, misalnya pada alat Vertical Pit Level Sensor
atau disebut juga dengan PVT (Pit Volume
Totalizer ) . Alat ini memakai FLOAT
(pelampung)yang dimasukan kedalam tanki , pelampung tersebut di beri rantai, sebagai pegangannya .Rantai
tersebut dihubungkan kesuatu alat yang disebut
Transmitter.
Jadi
apabila lumpur dalam tanki naik , maka pelampung tersebut ikut naik
begitu juga sebaliknya , apabila lumpur
dalam tanki turun maka pelampung akan turun .
Naik turunya pelampung tersebut yang
diproses oleh Transmitter. Jadi transmitter
di supply angin 20 psi , kemudian transmitter
mengeluarkan angin (Output Signal) 3- 15 Psi. Dari Output signal yang 3- 15 Psi inilah yang kemudian masuk ke alat yang disebut
Total Barrel dan Gain – Loss,
Total Barrel ini adalah alat yang memonitor
berapa Barrel lumpur
yang ada dalam tanki . Semakin naik lumpur , maka Float akan naik maka pembacaan pada Gauge
Total Barrel makin bertambah , begitu
juga sebaliknya semakin sedikit lumpur
maka Float ( pelampung) akan turun . Maka pembacaan pada Gauge Total Barrel
semakin sedikit
1.
Instrument
yang menggunakan Angin dan Electric atau
E/P(ElectricPneumatic)
Instrument ini juga membutuhkan Supply
angin 20- 30 Psi. Input signal
perbedaannya angin di control oleh electric, jadi instument ini menggunakan angin
dan elektrik sebagai penggeraknya , alat ini disebut juga Transducer.
Alat ini biasa kita pakai pada Drilling
Recorder (Alat pencatat kegiatan Driling & Pengeboran). System kerja alat
ini dimana Supply angin 30-20 psi (input Signal ) masuk ke Transducer, didalam transducer
tersebut ada Float coil (pelampung),
yang berguna untuk membuka dan menutup angin yang keluar.
Coil ini bergerak apabila ada tegangan
listrik , tegangan listrik ini biasanya berkisar 0,4 ma (3-6 volt DC) yang
dibangkit kan dari Tacho Generator.
Semakin kuat tegangan yang dibangkitkan dari Tacho Generator , semakin
kuat ke magnetan yang di timbulkan , maka angin semakin kuat yang keluar dari Transducer . Juga sebaliknya kecil tegangan yang dibangkitkan maka angin yang keluar dari transducer
semakin kecil .Jadi Transducer di supply tegangan DC Volt .Supply angin atau input signal 30
-20 psi, sedangkan output signal 3 – 15 psi.
2.
System kerja alat Transducer pada Driling
Recorder .
Piston yang digerakan oleh hydroulic untuk mencatat Pump Pressure kemudian Rotary
Torque dan weight Penetration . Piston yang digerakkan oleh angin seperti yang
kita jelaskan diatas , yang mana angin masuk ke Transducer 30- 20 psi. Angin
kemudian di tutup dengan menggunakan Gate yang ada di dalam transducer , kemudian angin masuk
kedalam transducer , sehingga gate terbuka setelah ada tegangan listrik masuk .
Semakin kuat tegangan yang masuk , maka
semakin besar angin yang mendorong Piston . Sebaliknya , semakin kecil tegangan
yang masuk , maka semangkin kecil angin
yang mendorong piston.
1.
Instrument
yang menggunakan Electric & Electronica
System
ini biasa kita pakai dengan 2 cara sytem,yaitu
ü System Analog
ü System
Digital
ü System Analog
Menggunakan
jarum sebagai petunjuk angka .System ini bekerja karena adanya tegangan listrik. Tegangan listrik yang
biasanya dipakai adalah arus searah (DC
Volt). Misalnya pada pemakaian SPM pompa dan RPM pompa.
Arus
Listrik yang dibangkitkan demi Tachometer, yaitu Generator kecil yang
mempengaruhi ke magnetan tetap. Tegangan yang keluar maximum 10 volt AC (150 ma
AC). SPM Gauge bekerja karena adanya supply Tegangan (DC Volt) dari Tacho
Generator. Semakin kencang putaran generator, maka tegangan yang keluar semakin
besar. Arus yang keluar dari Tachometer biasanya AC Volt, kemudian kita
searahkan untuk di supply ke SPM gauge atau
RPM Gauge dengan memasang Diode pada SPM Gauge. Pada SPM Gauge atau RPM Gauge di pasang Potensio yang
berguna untuk menstabilkan tegangan yang masuk
ke SPM atau RPM Gauge.
ü System Digital
System
ini kita jumpai pada pemakaian SPM pompa, kemudian pemakaian pada super choke di RIG, juga system
EDR(Electronic Drilling Monitor) System ini menggunakan limit swith sebagai
penghubung dan pemutus pada digital Pump Rate didalam limit swith ada hubungan normalisasi open (NO) dan hubungan Normalisasi
Close (NC) Limit Swith mempunyai tuas dan di pasang kan dia atas piston Rubbur pompa.
Tuas
terssebut biasanya untuk menghitung berapa STROKE (pukulan pompa per limitnya). Jadi , saat piston
Rubber Pompa bergerak dia harus
menyentuh tuas dari limit Swith tersebut. Berapa pukulan piston pompa tersebut
dalam 1 menit , itulah jumlah Strocke pompa yang di hitung dengan alat yang di
tampilkan pada sebuah digital pump serta
kemudian System EDR, (Elektronic Driling Recorder) atau
EDMS( Electronic Driling Monitor System) .
System
ini semua menggunakan Digital , dimana semua kegiatan Driling dapat di monitor dengan satu alat
yang di sebut NT Tracer. NT Tracer ini system kerjanya menerima data yang telah
di olah melalui DAQ(Data Aquistion Unit). DAG ini menerima data dari tiap- tiap unit
Instrument. Kemudian di proses di DAQ, lalu di kirimkan ke NT Tracer, dari NT
Tracer ini lah diketahui nilai tiap- tiap unit Instrument , misalnya nilai
Strocke Pompa yang menggunakan Proximity.
Nilai
PVT (Pit Volume Totalizer) PVT ini menggunakan Ultrasonic Sensor (Gelombang
Ultra). Nilai Hook Load, beban pengangkatan. Beban yang diangkat Block, misalnya
pipa, casing Drill Collar, dll. Hook Load dapat diketahui dengan memasang alat
yang disebut Encorder, Encoder di pasang di Drawork.
Nilai
Pump Pressure, Pump Pressure dapat di ketahui
dengan memasang alat yang di sebut Transducer.
Transducer
ini alat yang mengubah dari pressure ke
tegangan, dari Transducer di kirim ke DAS, dari DAS kemudian diolah kemudian di
kirim ke NT Tracer, maka tekanan Pressure akan Tampil (Terbaca).
Kemudian
nilai Lumpur yang keluar dari Flow Line saat pengeboran berlangsung. Lumpur
yang keluar dapat di ketahui dengan
memasang alat yang disebut Flw Sensor.
Flow
Sensor ini bekerja dengan menggunakan Paddle yaitu Plate . Apabila Plate ini
kena dorongan lumpur maka plate ini akan
terdorong naik , maka itu pembacaan lumpur naik tinggi. Rendah pembacaan aliran
lumpur tergantung besar kecilnya dorongan aliran lumpur.
Aliran
kumpur di baca dengan nilai persen, jadi aliran lumpur di Flow Line di baca
dengan persen misalnya 10%, 20 %, 30 %
dsb.
Perbedaan
antara Limit Swith dengan Proximity adalah Limit Swith bekerja dengan menyentuh
tuas dan pada Limit Swith ada Normalisasi Clouse dan Normalisasi Open (NO &
NC). Berapa pukulan maka itulah jumlah hitungan pompa yang di hitung permenit.
Sedangkan Proximity adalah magnet di ujung Proxiunity ada Coil, apabila di beri tegangan dan menjadi magnet.
Cara
kerjanya saat ada benda ( metal ) yang
lewat, maka benda itu di hitung berapa kali
benda itu lewat ( bergerak), maka Proximity akan mencatat , dan itulah
hitungan stroke pompa per menit.
System
EDMS, juga bisa di monitor di Rig Office dimana data dari DAQ di arahkan ke
APPServer yang berada di Rig Office.
System
ini menggunakan Media Wireless (Radio Link). Caranya data dari DAQ di kirim ke
Rig Office, kemudian di olah di App server, dari App Server kemudian di munculkan ke desktop yang berada di Rig Office.
1.
Instrument
yang menggunakan Hyidroulic
System ini menggunakan Fluida ( Cairan)
sebagai media pengantarnya . System ini banyak kita jumpai pada kegiatan Pengeboran
RIg (Driling) atau Rig Servise Adapun cara kerja system ini ada2 system
1. System yang menggunakan diagprham (pressure
menekan diagphram)
2. System
yang menggunakan Bourdon( Pressure menekan Bourdon langsung)
System yang menggunakan diagpram , dimana
pressure (tekanan) langsung, menekan diaghram dengan media fluida, kemudian
diagpham menekan fluida kembali dan di teruskan ke Bourdan.
Kekuatan tekanan diagprham terhadap
Bourdan itulah yang akan terbaca pada Gaugenya. Misalnya pada sensator untuk
weight Indicator, pump Pressure di Stand Pipe atau Pump Preassure Gauge.
Kemudian System yang menggunakan
Bourdan. System ini dimana Pressure langsung menekan Bourdan. Kekuatan pressure
itulah yang akan membuat pergerakan pada Bourdan , Semakin kuat pressure
menekan , maka pergerakan Bourdan semakin kuat .Jadi pergerakan Boudan inilah yang akan terbaca
pada pressure Gauge, sebagai contoh, pressure Gauge pada Acumulator pressure
gauge pada Hydroulic jack, pressure gauge pada air Compressor, Pressure gauge
Barhton Chart




Tidak ada komentar:
Posting Komentar